• Latest News

    Kamis, 30 Januari 2014

    Tinggi Raja, Pesona Alam Simalungun yang Terabaikan

    Cagar Alam Tinggi Raja yang terletak di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahen Kabupaten Simalungun Sumatera Utara merupakan salah satu tempat  yang patut dikunjungi untuk memanjakan mata.

    Di daerah terpencil, jauh dari hiruk pikuk masyarakat kota, banyak yang tidak menyangka terdapat tempat yang menakjubkan seperti Tinggi Raja. Tinggi Raja menjadi salah satu Cagar Alam yang mulai eksis kembali setelah sempat  hilang dari daftar kunjungan wisatawan. Tinggi Raja adalah tempat dimana terdapat mata air asli air panas yang membentuk bukit kapur dari belerang yang mengeras.

    Asal mula terbentuknya Cagar Alam Tinggi Raja juga menjadi salah satu cerita menarik, salah seorang penjaga parkir di tempat tersebut yang menamai dirinya Opung bersedia menceritakan sejarah tentang tempat ini.  Konon kawasan Tinggi Raja berasal dari empat marga yaitu Damanik, Sipayung, Saragih dan Purba. Kampung ini dulunya bernama Bauan, saat itu raja melakukan kenduri dan dalam kenduri tidak dibenarkan memakan hati kerbau, yang  menjadi pantangan dari raja. Namun, anak raja mengambil hati kerbau tersebut dan melanggar peraturan dengan memakan hati kerbau bersama masyarakat lainnya hingga terkena sumpah oleh Tinggi Raja.

    Sebahagian masyarakat banyak yang mati dan anak raja saat itu mencoba melarikan diri. Meskipun sempat lari hingga kedaerah Lintong, Tapanuli, namun kematian tidak dapat dielakkan oleh anak raja tersebut. Dirinya mati setelah datang air panas yang menghantam dirinya. “ Jadi setiap tahunnya ada mistik suara gendang,” ucapnya. Itulah sedikit cerita opung akan asal mula Tinggi Raja. Setelah muncul air panas tersebut, terbentuklah bukit kapur yang sekarang menjadi fenomena alam.

    Tinggi Raja sudah ditemukan sekitar ratusan tahun lalu, tetapi karena akses menuju tempat itu sangat memprihatinkan, seperti akses jalan menuju ke cagar alam tersebut yang sangat terjal dan rusak. Cagar alam ini belum begitu sering didengar di telinga masyarakat luas. Hal itu diungkapkan oleh Paini (68) salah seorang penduduk sekitar Cagar Alam Tinggi Raja tersebut. Pada 19 Nopember 2013.

    “ Tempat ini sudah ada dari dulu dan baru terkenal kembali saat ini karena jalan menuju ketempat ini sudah diperbaiki oleh TNI,  tempat ini sempat fakum dan jarang di datangi oleh para wisatawan karena jalan ketempat ini yang tidak mendukung, dan setelah jalan ini diperbaiki oleh oknum TNI, tempat ini mulai diketahui oleh para wisatawan”

    Untuk dapat sampai ke Tinggi Raja memakan waktu  4 jam dari Medan dengan menempuh jarak 95 Kilometer dari pusat kota Medan. Ada dua jalan alternatif menuju Bukit kapur Tinggi Raja, yakni dari Medan-Tebing Tinggi-Nagori Dolok-Bukit Kapur Tinggi Raja yang memakan waktu lebih lama di bandingkan jalur dari Medan- Galang (Deli Serdang)- Bangun Purba –Nagori Dolok- Bukit Kapur Tinggi Raja. Akses jalan  yang sangat memprihatinkan yang akan dilalui oleh pengunjung yakni 75 % jalan aspal dan 25 % jalan terjal dengan kerikil tajam.

    Namun sayang, untuk dapat menuju tempat seindah itu harus melewati jalan yang sangat tidak mendukung, kurangnya perhatian dari pemerintah untuk lebih menjaga dan memperkenalkan sebuah cagar alam yang sangat memanjakan mata agar dapat menjadi sebuah kebanggaan dari Sumatera Utara yang memiliki sebuah Cagar Alam yang sangat menakjubkan.

    Oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadikan kawasan Tinggi Raja sebagai pusat pelatihan militer. Kawasan yang masih memiliki keasrian hutan sangat tepat untuk mereka jadikan pusat pelatihan. Itulah alasan mereka memperbaiki jalan menuju Cagar Alam Tinggi Raja.

    Lelahnya perjalanan akan dibayar mahal ketika sudah sampai di Tinggi Raja, decak kagum wisatawan akan keindahan panorama Bukit Kapur Tinggi Raja akan tergambar dari raut wajah mereka.

    Dari keterangan penjaga cagar alam  ini, penduduk Tinggi Raja berjumlah 115 Kepala Keluarga (KK) yang mayoritas beragama Kristiani sebanyak 95 persen dan 5 persennya lagi beragama Islam. Namun dari cerita masyarakat setempat dulunya kerajaan yang terdapat di Tinggi Raja ini  berasal dari agama Islam. Makanya di tempat ini tidak boleh membawa atau menjual daging yang haram dan harus menjaga ucapan agar tidak boleh berkata kotor.

    Keindahan yang dimiliki Tinggi raja yaitu dari bagian bukit teratas dapat dijumpai bukit kapur bagaikan bukit bersalju            yang menghasilkan aroma belerang dan dibawahnya terdapat sebuah danau air air panas yang berwarna biru. Sedikit berjalan ke arah kiri menapaki hutan-hutan dan menuruni seratus anak tangga, wisatawan dapat menjumpai bukit kapur yang berwarna warni dan mengasilkan air terjun yang panas, yang di bawahnya terdapat juga sungai bersih yang dijadikan pemandian untuk para wisatawan.

    Indra (24) seorang wisatawan asal Medan mengungkapkan, “Cagar Alam Tinggi Raja ini sungguh sangat luar biasa indahnya, dan jarang ditemui di Indonesia, hanya SUMUT yang memiliki cagar Alam seindah ini, saya berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur jalan agar tempat ini menjadi lebih diminati dan dikenal oleh para wisatawan lokal maupun wisatan asing”.

    antarasumut | foto by Johny Siahaan
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Tinggi Raja, Pesona Alam Simalungun yang Terabaikan Rating: 5 Reviewed By: Horas Simalungun
    Scroll to Top

    Powered by themekiller.com