Searching...
Visit Simalungun | kunjungi beraneka ragam panorama wisata simalungun
Adat dan Budaya Simalungun Warisan Leluruh, identitas orang simalungun
Pariwisata Simalungun Let's Visit Simalungun
Tokoh Pengemuka Simalunguns Mereka yang telah berjasa dan mengharumkan Simalungun
Event Budaya SimalungunEvent Bertemkan Simalungun Mengangkat kembali dan melestarikan Budaya Simalungun
Jumat, 27 Februari 2015
Makna dan Sejarah Tortor Huda Huda/Toping Toping Simalungun

Makna dan Sejarah Tortor Huda Huda/Toping Toping Simalungun

Pengertian Huda-Huda/Toping-Toping

Pada masyarakat Simalungun dikenal suatu jenis Tari Topeng yang dipertunjukkan pada upacara kematian usia lanjut, yang disebut huda-huda/toping-toping. Masyarakat Simalungun mengenal kedua nama tersebut. Oleh karena itu, penulis menggunakan kedua nama tersebut sebagai nama dari Tari Topeng Simalungun yang dipertunjukkan pada upacara kematian usia lanjut (namatei sayurmatua).
Mereka menyebutnya huda-huda didasari oleh beberapa hal, antara lain:
  • Salah seorang dari pemainnya mempunyai bentuk dan ekor yang panjang, mirip seekor kuda (dalam bahasa Simalungun disebut huda).

  • Musik (gual) sebagai pengiring huda-huda disebut gual huda-huda, yaitu suatu jenis repertoar lagu yang ditabuh menggunakan seperangkat alat musik tradisional yang disebut gonrangsidua-dua.

  •  Langkah atau gerakan kaki disebut lakkah huda-huda. Gerak badan penari pun mirip gerak seekor kuda. Oleh karena langkah dan gerak penari mirip gerak seekor kuda, maka tari ini disebut tari huda-huda..

  • Jika ada seseorang yang meninggal dunia usia lanjut, maka orang cenderung menyebut: “Sonaha...i huda-hudai do namatei sayurmatua ai?” (Artinya: apakah dimainkan huda-huda terhadap yang meninggal dunia usia lanjut tersebut?) Mereka tidak pernah menyebutnya: Sonaha...i toping-toping do namatei sayurmatua ai?” (Artinya: apakah dimainkan topingtoping terhadap yang meninggal dunia usia lanjut tersebut?)

Jadi, mereka menyebutnya huda-huda karena huda-huda memainkan peranan yang penting. Berdasarkan hal-hal di atas, maka masyarakat Simalungun menyebut Tari Topeng hudahuda.

Pada pihak lain, mereka menyebutnya toping-toping. Adapun alasan mereka karena dua dari tiga orang pemainnya menggunakan topeng sebagai penutup mukanya, yang terdiri dari topeng berparas laki-laki dan berparas perempuan. Kedua penari topeng ini membawakan peran yang lucu sesuai dengan paras topengnya. Jika tarian ini dipertunjukkan, maka pemain topeng merupakan idola penonton yang mampu membuat orang tertawa. Karena para pemain menggunakan topeng (bahasa Simalungun: toping) sebagai penutup mukanya, maka masyarakat

Simalungun menyebutnya toping-toping. Hal ini sejalan dengan pendapat Bandem (1976:1), bahwa topeng merupakan suatu benda penutup muka. Di sini maksud “tutup” yang dipakai adalah untuk menutupi muka manusia. 

Pemain topeng tersebut tidak sekadar menutup mukanya, tetapi juga disertai dengan gerak, dan gerak tersebut harus pula seirama dengan musik pengiringnya. Dengan ungkapan melalui gerak ini, maka disebut tari, yaitu ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dengan gerakgerak ritmis yang indah (Soedarsono, 1978:3). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tari yang menggunakan topeng sebagai penutup mukanya dan disertai dengan berbagai bentuk gerak yang diiringi musik dan dipertunjukkan, maka tari seperti ini disebut Tari Topeng.

Kedua nama tersebut merupakan nama yang umum dikenal oleh masyarakat Simalungun. Oleh karena itu dalam penyebutan namanya, saya tidak memisahkan atau membedakan kedua nama tersebut, tapi menggunakan keduanya yang ditulis sekaligus, dan memberikan garis miring untuk menyatakan bahwa kedua nama itu dikenal oleh masyarakat Simalungun.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa huda-huda/toping-toping adalah salah satu jenis tarian Simalungun yang menggunakan topeng atau sejenisnya, dan penutup badan lainnya yang dipergunakan pada upacara kematian usia lanjut.

Asal-Usul Huda-Huda/Toping-Toping
Jika ditanyakan asal-usul huda-huda/toping-toping kepada masyarakat Simalungun, maka mereka menceritakan dengan versi yang berbeda-beda tetapi berasal dari suatu kisah kematian seorang putra raja.

Di bawah ini dikemukakan kisah terjadinya huda-huda/toping-toping sebagai berikut: 

Mulanya, terjadi musibah yang menimpa suatu keluarga kerajaan. Satu-satunya anak raja meninggal dunia dan permaisuri pun merasa sedih. Permaisuri tidak merelakan anaknya dikebumikan. Setelah beberapa hari ditunggu-tunggu, permaisuri tetap tidak mau melepaskan anaknya dari pangkuannya. 
Mendengar pengumuman raja, maka parpongkalan nabolon (sekelompok orang yang berkumpul pada suatu tempat pertemuan, biasanya barbincangbincang),
memikirkan suatu cara untuk membujuk sang permaisuri sekaligus menghibur hati yang duka. Maka mereka menciptakan gerakan-gerakan yang lucu dan menutup mukanya dengan paruh burung enggang, dan yang lainnya membuat topeng seperti monyet. Teman-teman yang lain membuat suara/bunyi-bunyian untuk mengiringi gerak-gerak yang lucu. Raja pun turun ke bawah melihat gerak tari yang ditampilkan. Ia merasa tertarik dan turut terhibur.

Melihat dan mendengar kejadian yang ada di halaman istana, permaisuri merasa tertarik dan ia pun turun ke bawah melihat dari dekat pertunjukan tadi. Melihat pertunjukan ini, sang permaisuri terlena dan lupa terhadap anaknya yang meninggal dunia tadi. Pada kesempatan inilah sang raja memerintahkan supaya putranya yang meninggal dunia dikebumikan dengan segera.

Sejak itu jika ada keluarga kerajaan yang meninggal dunia, maka parpongkalan nabolon membuat suatu pertunjukan yang lucu untuk menghibur keluarga yang berduka (diceritakan oleh Sadin Purba, desa Simbolon, Kecamatan Panei, Kab. Simalungun).

Dari kisah yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa awal diciptakannya huda-huda/toping-toping adalah untuk menghibur keluarga kerajaan yang sedang berduka karena seorang putranya meninggal dunia. Dalam proses penciptaan ini, rakyatlah yang ambil bagian dan mereka pulalah yang menghibur keluarga kerajaan.

Perkembangan Huda-Huda/Toping-Toping
Pada mulanya, huda-huda/toping-toping ditampilkan jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Batas umur tidak menjadi permasalahan. Jadi, jika ada keluarga kerajaan yang meninggal dunia, masih anak-anak, dewasa maupun telah lanjut usia, diadakanlah upacara   kematian dengan menampilkan huda-huda/toping-toping untuk menghibur keluarga kerajaan yang sedang berduka.

Pada masa jaya kerajaan Simalungun terjadi pembatasan penggunaannya, yaitu khusus digunakan pada upacara kematian sayurmatua. Dan merupakan suatu kebanggaan bagi keluarga kerajaan jika memiliki seperangkat pemain huda-huda/toping-toping.

Setelah Indonesia merdeka, bekas kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun dijadikan satu wilayah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang bupati, dan sekarang yang termasuk bekas wilayah kerajaan Simalungun tersebut dijadikan Kabupaten Simalungun.

Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, pada masyarakat Simalungun tidak ada lagi perbedaan antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Oleh karena itu, huda-huda/toping-toping sudah menjadi milik rakyat. Siapa saja orang Simalungun yang meninggal dunia usia lanjut boleh mempertunjukkan huda-huda/toping-toping. Memang pada masa jayanya kerajaan Simalungun dulu, huda-huda/toping-toping dipergunakan oleh keluarga perwakilan raja yang disebut partuanon dan parbapaan.

Pada saat ini, huda-huda/toping-toping sudah dapat digunakan oleh masyarakat Simalungun terhadap orang yang meninggal dunia usia lanjut dari lapisan mana saja. Dan yang penting, keluarga yang ditinggalkan mampu membiayai upacara tersebut. 

Yang menjadi kendala sekarang, tidak banyak lagi ditemui pemain huda-huda/toping-toping, dan sudah jarang sekali huda-huda/toping-toping dipertunjukkan pada upacara kematian usia lanjut oleh masyarakat Simalungun.

Penggunaan dan Fungsi Huda-Huda/Toping-Toping

Melihat perkembangannya, huda-huda/toping-toping digunakan untuk menghibur keluarga kerajaan karena seorang anggota keluarga meninggal dunia. Kemudian penggunaan huda-huda/toping-toping berkembang dan mengalami perubahan. Mulanya tidak ada pembatasan umur kematian seseorang, dan hanya boleh digunakan pada jenis kematian yang telah usia lanjut.

Pada masa jaya kerajaan di Simalungun, huda-huda/toping-toping digunakan pada saat:
  • Mangiliki, yaitu suatu acara dalam upacara kematian seseorang usia lanjut untuk menyambut  para pelayat. Huda-huda/toping-toping menghibur keluarga yang berduka dan menghibur para pelayat.
  • Mangongkal holi-holi, yaitu suatu upacara pemindahan tulang belulang seseorang yang telah meninggal dunia usia lanjut.
  • Manurun, yaitu suatu acara untuk menguburkan seseorang yang meninggal dunia, namun upacara penguburan lama berselang sesudah orang tersebut meninggal dunia. Biasanya dilakukan terhadap orang yang meninggal dunia usia lanjut.

Setelah kemerdekaan Indonesia, penggunaan huda-huda/toping-toping mengalami perubahan dan dibatasi berdasarkan jenis kematian seseorang. Jenis-jenis kematian usia lanjut yang dikenal pada masyarakat Simalungun ada tiga:
  • namatei sayurmatuah, yaitu seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut, mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan. Telah pula mempunyai cucu dari anak laki-laki dan dari anak perempuan, serta tidak ada lagi anaknya yang belum berkeluarga.
  • namatei sayurmatua, yaitu seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut, mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, namum masih ada yang belum berumah tangga.
  • namatei matua, yaitu seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut, telah mempunyai cucu, namun masih ada anaknya yang belum berumah tangga.

Dari ketiga jenis kematian usia lanjut tersebut, yang diperbolehkan mengadakan acara mandingguri/mangiliki adalah jenis kematian namatei sayurmatuah. Pada sayurmatuah, dapat disebut bahwa seseorang itu telah mendapat berkat yang cukup. Biasanya, sebelum meninggal dunia ia telah memesan tempat di mana ia akan dikebumikan.

Pada masa sekarang, penggunaan huda-huda/toping-toping tidak hanya untuk kematian sayurmatuah, tetapi juga untuk jenis kematian sayurmatua. Memang pada saat sekarang ada masyarakat Simalungun yang tidak perlu membedakan jenis kematian tersebut, yang penting seseorang yang meninggal dunia itu telah berusia lanjut dan telah pula mempunyai cucu. Sehingga untuk jenis kematian sayurmatuah dan kematian sayurmatua cukup disebut namatei sayurmatua.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan huda-huda/toping-toping pada saat sekarang adalah sebagai berikut:

1. pada upacara kematian namatei sayurmatuah
2. pada upacara kematian namatei sayurmatua
3. pada upacara mengongkal holi-holi

Ada P. Merriam (1964:219-226) menyebutkan, sedikitnya ada 10 macam fungsi musik, antara lain:
- fungsi pengungkapan emosional
- fungsi penghayatan estetis
- fungsi hiburan
- fungsi komunikasi
- fungsi perlambang
- fungsi reaksi jasmani
- fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial
- fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara agama
- fungsi kesinambungan kebudayaan
- fungsi pengintegrasian masyarakat

Walau tulisan ini membahas Tari Topeng Simalungun, namun dalam mengkaji fungsinyasaya bertitik tolak dari fungsi musik yang dikemukakan oleh Merriam. Huda-huda/toping-toping tidak pernah dimainkan berdiri sendiri tanpa diiringi musik. Karena itu, tari dan musik pengiring huda-huda/toping-toping merupakan dwi tunggal yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, dalam pembahasan fungsi, keduanya berkaitan erat dan dijadikan satu dalam pembahasannya. Jika melihat pertunjukan huda-huda/toping-toping dan memperhatikan asal-usul pencipataannya, maka fungsi utamanya adalah sebagai hiburan.

Menurut pandangan masyarakat Simalungun, kematian usia lanjut (namatei sayurmatuah) adalah suatu kematian yang orang-orang tidak lagi perlu berduka. Kematian seperti ini dapat dikatakan suatu kematian yang telah mendapat berkat dan sampai kepada cita-cita.

Oleh karena itu, setiap orang menginginkan agar seseorang itu sayurmatuah, artinya hidup lama dan keturunannya mendapat hidup yang baik. Pada jenis kematian inilah biasanya diadakan acara mandingguri dan mangiliki, ditandai penabuhan musik tradisonal Simalungun.

Acara mandingguri ditandai dengan menabuh seperangkat gonrang sipitu-pitu. Para keluarga yang berduka menari bersama-sama di hadapan jenazah dan acara ini dilakukan pada malam hari.

Acara mangiliki ditandai dengan menabuh seperangkat gonrang sidua-dua dan dilaksanakan pada siang hari. Pada saat inilah dimainkan huda-huda/toping-toping untuk menghibur keluarga yang berduka, sekaligus menghibur para pelayat. Para pemain topeng melakonkan gerak-gerak yang lucu, sehingga para pelayat tertawa, walaupun pada saat itu adaorang yang meninggal dunia.

Pertunjukan huda-huda/toping-toping memiliki kemampuan untuk membangkitkan emosi para pelayat, sehingga mereka dengan spontan memberikan sejumlah uang kepada penari topeng. Di sinilah terlihat bahwa huda-huda/toping-toping dapat berfungsi sebagai pengungkapan emosional para penonton.

Pada bagian lain, pemain huda-huda/toping-toping datang menjenguk keluarga yang berduka. Melalui gerak dan isyarat yang dipertunjukkannya, ia berkomunikasi dengan keluarga yang berduka agar tidak perlu menangisi dan tidak usah lagi berduka.

Para pemain topeng dengan sengaja pula berjalan-jalan di sekitar kampung tempat acara itu berlangsung. Mereka berjalan-jalan dan kadang kala mereka meminta sesuatu kepada penduduk kampung. Dengan munculnya topeng di tengah-tengah kampung, maka mereka  memiliki fungsi komunikasi untuk menyampaikan berita bahwa di kampung itu ada acara mangiliki.

Fungsi estetis dapat terlihat pada saat huda-huda/toping-toping menyambut para pelayat yang datang. Mereka menampilkan gerak-gerak yang indah yang memiliki nilai estetis. Jika para pelayat juga membawa serombongan huda-huda/toping-toping, maka mereka bertanding menyuguhkan kebolehannya yang dapat dirasakan keindahannya oleh para pelayat.

Musik Pengiring Huda-Huda/Toping-Toping

Musik pengiring huda-huda/toping-toping ini adalah seperangkat gonrang sidua-dua yang terdiri dari: satu buah sarunai bolon (serunai, aerofon), dua buah gonrang (gendang, membranofon), dua buah mongmongan (sejenis gong ukuran kecil, idiofon) dan dua buah ogung (gong ukuran besar, idiofon).

Pemain seperangkat gonrang sidua-dua terdiri dari lima orang, yaitu: satu sebagai peniup sarunei bolon, dua orang sebagai penabuh gendang, satu orang penabuh mongmongan, dan satu orang penabuh ogung.

Gual (repertoar) yang ditampilkan dalam mengiringi huda-huda/toping-toping adalah sebagai berikut:
  • Gual khusus untuk mengiringi huda-huda/toping-toping , yaitu gual huda-huda.
  • Gual tambahan untuk mengiringi huda-huda/toping-toping antara lain: gual parahot, gual rambing-rambing, gual imbo manibung, gual sombuh atei ni hudan, dll.


Bentuk dan Pakaian Huda-Huda/Toping-Toping
Parhuda-huda-huda/toping-toping (pemain huda-huda) menutup badannya dengan kain. Bagian tengah berbentuk bulat yang terbuat dari rotan. Penutup badan huda-huda berwarna putih pada bagian atas, merah pada bagian tengah, dan hitam pada bagian bawah. Sebagai paruhnya terbuat dari paruh burung enggang, biasanya burung enggang jantan. Hal ini dapat diketahui apabila paruhnya berukuran besar. Sebaliknya, jika berparuh kecil maka burung itu adalah betina.

Pemilihan warna pakaian disesuaikan dengan warna yang terdapat pada masyarakat Simalungun yang terdiri dari tiga warna, yaitu putih, merah, hitam.

Pemain topeng yang berparas laki-laki menampilkan pakaian polang-polang, yaitu suatu pakaian khusus berwarna putih, merah dan hitam. Topengnya dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip seperti paras seorang laki-laki. Rambutnya terbuat dari ijuk dan bahan topeng terbuat dari kayu ingul kayu kemiri.

Pemain topeng yang berparas wanita dilakonkan oleh seorang laki-laki, buka dilakonkan wanita. Oleh karena itu, pemainnya dirias seperti layaknya seorang wanita, dan pakaiannya juga pakaian wanita. Gerak tari yang ditampilkan juga gerak tari wanita (terdapat perbedaan gerak tari laki-laki dan gerak tari wanita).

Jalannya Pertunjukan Huda-Huda/Toping-Toping

Pertunjukan huda-huda/toping-toping dilaksanakan pada acara mangiliki yang merupakan bagian dari upacara kematian usia lanjut.

Sebelum pertunjukan dimulai, pihak yang berduka memberikan sirih kepada panggual (pemain musik). Kemudian dilanjutkan kepada pemain huda-huda/toping-toping. Tujuan pemberian sirih ini, agar para penabuh dengan rela dan ikhlas menabuh gendang, dan para penari topeng dapat menampilkan pertunjukan dengan baik serta jauh dari marabahaya.

Kemudian para pemain memakai huda-huda dan topengnya pada suatu tempat yang disebut parsalinan, yaitu suatu tempat khusus bagi pemain untuk memasang dan mengganti topeng.

Sebelum pemain huda-huda/toping-toping memegang topengnya, mereka terlebih dahulu memberikan ucapan pamit kepada huda-huda dan topengnya. Tujuannya agar para
pemain mendapat restu dan jauh dari marabahaya.

Pemain huda-huda/toping-toping mulai menunjukkan kebolehannya. Pada saat inilah pemain huda-huda dan pemain topeng menjenguk keluarga yang berduka untuk dihibur dengan gerak isyarat yang bermakna tidak perlu berduka. 

Sebelum acara mangiliki dimulai, pemain huda-huda/toping-toping memberikan hiburan kepada pelayat yang diadakan di halaman rumah. Mereka menampilkan gerak-gerak yang lucu.

Para pemain topeng bebas membuat gerak dan tingkah laku, sehingga para penonton tergugah untuk memberikan sesuatu untuk pemain topeng. Dan terkadang pemain topeng keluar dari tempat rumah duka, berjalan-jalan mengelilingi kampung dan mengambil telur ayam untuk dimakannya sendiri. Pemilik telur tidak memarahinya dan tidak menuduh pemain topeng sebagai pencuri.

Setelah sampai kepada acara mangiliki, huda-huda/toping-toping menyambut kedatangan tamu yang hendak melayat. Jika tamu tersebut membawa serombongan hudahuda/toping-toping, maka dari kejauhan para tamu menampilkan huda-hudanya pula dan langsung disambut oleh pihak keluarga yang berduka dengan huda-huda pula.

Setelah acara mangiliki selesai, dilanjutkan dengan acara penguburan. Pemain hudahuda/toping-toping turut mengantarkan jenazah ke perkuburan, berikut menampilkan gerakgerak sesuai dengan geraknya masing-masing. Setelah jenazah dikebumikan, maka pemain hudahuda/toping-toping meninggalkan peralatan huda-huda/toping-toping tersebut di perkuburan.

Mereka melarikan diri dan pergi ke sungai untuk mandi. Setelah mandi, mereka pulang ke kampung untuk mendapatkan nitak (makanan yang terbuat dari beras yang dicampur gula, tanpa dimasak). Dan pihak keluarga yang berduka membawa peralatan huda-huda/toping-toping tadi ke rumah, begitu juga alat-alat musik lainnya. 

sumber : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/15259
Read More
Minggu, 08 Februari 2015
Alat Musik Tradisional Simalungun

Alat Musik Tradisional Simalungun

alat musik tradisional simalungun
Simalungun adalah salah satu dari lima kelompok etnis batak. Etnis Simalungun berasal dari kabupaten simalungun, provinsi Sumatera Utara. Musik tradisional Simalungun  diwariskan secara turun-temurun dengan cara lisan.

Musik Tradisional Simalungun sebagai bagian dari unsur kebudayaan Simalungun  Meliputi :


1. Alat-Alat Musik Tradisional Simalungun

Alat-alat Musik Tradisional Simalungun dapat digolongkan sebagai berikut :

Golongan  Idiofon

Mongmongan, merupakan alat musik yang terbuat dari kuningan atau besi yang memiliki pencu.  Mongmongan ada dua macam yaitu, Mongmongan sibanggalan danMongmongan sietekan.

Ogung, merupakan nama lain dari gong yang selama ini kita kenal. Ogung ada dua macam yaitu ogung sibanggalan dan ogung sietekan.

Sitalasayak, adalah alat musik yang bentuknya seperti simbal yang ter terbuat dari kuningan atau besi dan terdiri dari dua bilah yang sama bentuknya.

Garantung, merupakan alat musik yang terbuat dari kayu dan mempunyai resonantor yang juga terbuat dari kayu. Garantung terdiri dari tujuh bilah yang mempunyai nada berbeda.

Golongan Aerofon

a. Sarune Bolon, merupakan jenis alat musik tiup yang mempunyai dua lidah (double reed) badannya terbuat dari silastom, nalihnyaq terbuat dari timah, tumpak bibir terbuat dari tempurung. Lidah terbuat dari daun kelapa, dan sigumbang terbuat dari bamboo, Sarune bolon dipergunakan sebagai pembawa melodi.

b. Sarune Buluh, merupakan jenis alat musik tiup yang yang terdiri dari satu lidah (single reed). Sarune buluh terbuat dari bambu, mempunyai tujuh lobang suara, sebelah atas enam lobang dan sebelah bawah satu lobang.

c. Tulila, merupakan sejenis recorder yang terbuat dari bambu, Tulila dimainkan secara vertikal.

d. Sulim, merupakan alat musik sejenis flute yang terbuat dari bambu.

e. Sordam, merupakan alat musik sejenis flute yang terbuat dari bambu yang dimainkan miring (oblique flute).

f. Saligung, merupakan salah satu alat musik sejenis flute yang terbuat dari bambu hanya saja ditiup dengan hidung.

g. Ole-ole, adalah merupakan jenis alat musik tiup yang yang terdiri dari satu lidah (single reed).badannya terbuat dari batang padi dan resonantornya terbuat dari daun enau atau daun kelapa.

Hodong-hodong, merupakan alat musik sejenis genggong, genggong jenis alat musik yang dibuat dari bilah, besi, kawat, dan sebagainya yang dibunyikan dengan ditekankan di mulut lalu dipetik dengan telunjuk. Hodong-hodongdipergunakan sebagai alat komunikasi seorang pemuda kepada kekasihnya dan sebagai hiburan.

Ingon- ingon, merupakan alat musik di ladang yang ditiup oleh angin. Angin memutar kincir sehingga bambu berbunyi. Ingon-ingon terbuat dari sebilah kayu sebagai kincir dan bambu sebagai penghasil bunyi.

Golongan Membranofon

a. Gonrang Sidua-dua, merupakan gendang yang badannya terbuat dari kayu ampirawas dan kulitnya dari kulit kancil atau kulit kambing. Gonrang Sidua-dua terdiri dari dua gendang.

b. Gonrang sipitu-pitu/Gonrang bolon, merupakan gendang yang badannya terbuat dari kayu dan kulitnya terbuat dari kulit lembu, kambing, dan kulit kancil. Pada bagian atas terdapat kulit dan pada bagian bawah ditutupi kayu. Gendangnya terdiri dari tujuh buah gendang .


Golongan Kordofon

a. Arbab, adalah alat musik yang terbuat dari : tabung resonantordari labu atau tempurung, leher terbuat dari kayu atau bamboo, lempeng atas terbuat dari kulit kanci atau kulit biawak, senar terbuat dari benang dan alat penggesek terbuat dari ijuk enau yang masih muda.

Husapi, merupakan alat musik sejenis lute yang mempunyai leher. Husapi terbuat dari kayu dan mempunyai dua senar.

c. Jatjaulul/Tengtung, merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang senarnya sebanyak dua atau tiga buah. Dimainkan dengan memukul senarnya.

2. Ensembel Musik Tradisional Simalungun

A. GONRANG SIDUA-DUA SIMALUNGUN

Gonrang Sidua-dua adalah seperangkat musik tradisional simalungun yang terdiri dari satu buah sarune bolon, dua buah gonrang, dua buah gonrang mongmongan dan dua buah ogung. Gonrang dalam kebudayaan simalungun disebut juga dengan mardagang yang artinya merantau atau berpindah-pindah. Pemain Gonrang Sidua-Dua disebut Panggual. Lagu-lagu gonrang disebut Gual. Membunyikan/memainkan Gonrang disebut Pahata.

Gual gonrang sidua-dua dibedakan atas dua bagian :

Topapon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang dan pola ritmenya sama.

Sitingkahon/Siumbakon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang yang masing-masing mempunyai pola ritme yang berbeda. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sibanggalan dan gonrang sietekan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut sitingkahon. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sietekan dan gonrang sibanggalan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut siumbakon.

Penggunaan Gonrang Sidua-Dua

Dalam upacara religi, maksudnya suatu upacara pemujaan atau penyembahan maupun pemanggilan roh yang baik dan pengusiran roh yang jahat. Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

Manombah/memuja, yaitu untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Marangir, yaitu suatu acara untuk membersihkan badan dari perbuatan tidak baik dan roh-roh jahat.

Ondos Hosah, yaitu semacam ritual tolak bala yang dilakukan oleh desa atau keluarga.

Manabari/manulak bala, yaitu mengusir mara bahaya dari suatu desa atau dari diri seseorang.

Marbah-bah, yaitu suatu untuk menjauhkan seseorang dari penyakit ataupun kematian.

Mangindo pasu-pasu, yaitu meminta berkat agar tetap sehat dan mendapat rezeki.

Manogu losung/hayu, yaitu acara untuk mengambil kayu untuk dijadikan lumpang atau tiang rumah.

Rondang bintang, yaitu suatu acara setelah panen besar.


Dalam upacara adat, yaitu  upacara dalam hubungan antara manusia dengan manusia. Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

Mamongkot rumah, yaitu acara memasuki rumah baru.

Patuekkon, yaitu acara untuk membuat nama seseorang.

Marhajabuan, acara pemberkatan pada suatu perkawinan agar perkawinan tersebut diwarnai kebahagiaan.

Mangiligi, yaitu suatu acara yang diadakan untuk menghormati seseorang yang meninggal dunia yang sudah memiliki anak cucu.

Bagah-bagah ni sahalak, yaitu suatu acara yang diadakan karena seseorang ingin membuat pesta.


Dalam acara malasni uhur atau acara kegembiraan, Gonrang sidua-dua digunakan dalam acara :

Mangalo-alo tamu, yaitu suatu acara untuk menyambut tamu penting dari luar daerah.

Marilah, merupakan suatu acara muda-mudi yang menyanyi bersama.

Pesta malasni uhur, yaitu suatu acara kegembiraan yang diadakan suatu keluarga.

Peresmian, bangunan-bangunan, yaitu suatu acara kegembiraan meresmikan bangunan.

Hiburan, dan lain-lain.


B. GONRANG SIPITU-PITU/ GONRANG BOLON SIMALUNGUN

Gonrang sipitu-pitu/ gonrang bolon adalah seperangkat alat musik tradisional Simalungun yang terdiri dari satu buah sarunei bolon pemainnya disebut parsarune, tujuh buah gonrang pemainnya disebut panggual, dua buah mong-mongan pemainnya disebut parmongmong dan dua buah ogung yang pemainnya disebut parogung. Parhata gonrang sipitu-pitu sama dengan gonrang sidua-dua. Masyarakat simalungun menyebut  gonrang ini dengan nama gonrang bolon untuk upacara adat malas ni uhur (sukaria) dan menyebutnya gonrang sipitu-pitu untuk upacara adat mandingguri (duka-cita)

Penggunaan Gonrang sipitu-pitu

Dalam upacara religi, gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon digunakan dalam acara :

Manombah/memuja

Maranggir

Ondosh Hosah

Manabari/ mamulak bala

Mangindo pasu-pasu

Rondang Bintang

Manraja, yaitu upacara penobatan seorang raja.



Dalam upacara adat gonrang sipitu-pitu/gonrang bolon digunakan dalam :

Upacara adat sayurmatua : mandingguri dan mangiliki

Upacara data malas ni uhur : mamongkot rumah, patuekkon, marhajabuan, bagah-bagah ni sasahalak.


3. Nyanyian Rakyat Simalungun

Orang simalungun menyebut nyanyian rakyat simalungun dengan doding. Bernyanyi dalam bahasa simalungun disebut mandoding. Adapun jenis-jenis nyanyian rakyat simalungun adalah sebagai berikut :

Taur-taur dan simanggei, nyanyian keluh kesah pemuda-pemudi. Taur-taur dinyanyikan oleh pemuda dan simaggei dinyanyikan oleh pemudi.

Ilah, yaitu nyanyian yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi secara bersamaan.

Doding-doding, yaitu suatu nyanyian bersama-sama (nyanyian umum).

Urdo-urdo, yaitu nyanyian dari orang tua untuk menidurkan anak yang masih kecil.

Tihtah, yaitu nyanyian untuk bermain

Tangis, merupakan nyanyian duka karena putus asa  berpisah dengan anggota keluarga karena kematian.

Orlei dan dan mardogei, yaitu suatu nyanyian yang dilakukan secara bersama-sama sambil bekerja.

Mandillo tonduy, yaitu nyanyian yang dilakukan ibu tua untuk memanggil roh.

Manalunda/mangmang yaitu suatu mantera yang dinyanyikan oleh seorang datu (dukun) guna menyembuhkan suatu penyakit atau pelantikan seorang raja.

10.  Inggou turi-turian, yaitu suatu nyanyian yang dilagukan oleh seorang datu untuk hiburan dan diakhiri dengan suatu upacara.


Fungsi nyanyian rakyat simalungun :

Pengungkapan emosional

Penghayatan estetis

Sebagai Hiburan

Sarana komunikasi

Sebagai pelambang

Untuk reaksi jasmani

Kontrol sosial

Untuk pengesahan lembaga sosialdan upacara agama

Sarana pengajaran

10.  Untuk pengintegrasian masyarakat.

simalungunonline
Read More
Selasa, 02 September 2014
Daftar Anggota DPRD Pematang Siantar 2014 - 2015

Daftar Anggota DPRD Pematang Siantar 2014 - 2015

Senin 2 September 2014 bertempat di Gedung harungguan Pematang Siantar, sebanyak 30 Anggota DPRD Pematang Siantar Masa J
abatan 2014 - 2019 dialntik oleh Ketua Pengadilan Pematang Siantar , Viktor Pakpahan.

Eliakim Simanjuntak dari Partai Demokrat ditunjuk sebagai ketua sementara karena memiliki suara terbanyak pada Pileg lalu.

Berikut ini daftar lengkap  Anggota DPRD Pematang Siantar Masa Jabatan 2014 - 2015 : 

DAPIL 1
1. Denny Siahaan  (Golkar)
2. Hendra Pardede(Golkar)
3. Manakkas Silalahi (PDIP)
4. Timbul Lingga (PDIP)
5. Eliakim Simanjuntak (Demokrat)
6. Ronald Tampubolon (Demokrat)
7. Frans Siahaan (Nasdem)
8. Oberlin Malau (Gerindra)
9. Yesika Pratiwi Sidabalog (Hanura)
10. Kenedy Parapat (Hanura)
11. Zaenal Purba (PAN)
12. Togar Sitorus (Demokrat)
13. Maruli Hutapea(Demokrat)
14. Anton Said Nasution (PKB)
15. Tongam Pangaribuan (Nasdem)
16. Hotman Kamaluddin Manik (PDIP)
17. Nazli Juwita Pane (Golkar)
18. Rini Silalahi (Golkar)
19. Hendri Sinaga (Gerindra)
20. OW Herry Darmawan (PAN)
21. H Sailanto (PKS)
22. Frans Bungaran Sitanggang(PKPI)
23. Frida Damanik  (Demokrat)
24. Asrida Sihotang (Demokrat)
25. Mangatas Silalahi Golkar)
26. Frangky Boy Saragih (Nasdem)
27. Arapen Ginting(PDIP)
28. Hotmauli Namalau (Gerindra)
29. Boy Parady Purba (PPP)
30. Robby Tambunan(PKPI) 

Kita berharap para wakil rakyak ini bisa menjalankan tugas mereka dengan baim demi kepentingan rakyat.

sumber KPU SUMUT
Read More
Senin, 01 September 2014
Tortor Huda Huda Simalungun Curi Perhatian Festival Krakatau Lampung 2014

Tortor Huda Huda Simalungun Curi Perhatian Festival Krakatau Lampung 2014

Ada yang unik di pembukaan Festival Krakatau 2014. Tari Huda-huda yang dibawakan tim kesenian dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Provinsi Sumatera Utara mencuri perhatian mereka yang menonton rangkaian acara tersebut di Lapangan Saburai - Enggal Bandar Lampung, Minggu, 24 Agustus 2014.

Tarian itu seni gerak penuh filosofi milik suku Simalungundi Sumatera Utara. Bagi suku Simalungun, burung enggang adalah satwa yang dihormati. Kehadirannya memberikan pertanda khusus bagi masyarakat kampung yang mengetahuinya. Kalau burung itu ada, maka masyarakat akan memperhatikan secara detail ke arah mana dia terbang. Arah terbang itu menentukan apakah kedatangannya memberitahu kabar baik atau dukacita, kata Matius, kepala tim seni tersebut sebelum tari dipertontonkan.

Menurut Matius, Tari Huda-huda berarti kuda-kuda. "Karena kalau burung enggang itu mendarat dan berjalan mirip dengan kuda," ujarnya.

Tarian Huda-huda biasanya dipentaskan pada acara kematian orangtua yang semua anaknya sudah punya cucu atau  cicit. "Zaman dulu ini adalah tarian keluarga kerajaan. Hanya dipentaskan untuk kematian pada kalangan bangsawan. Dibawakan dengan jenaka, supaya keluarga yang ditinggalkan almarhum tidak terlalu bersedih atas kematian tersebut. Sepanjang keluarga almarhum belum tertawa atau minimal senyum, tarian tersebut tidak akan berhenti. Semacam penghiburan supaya tidak terlalu menangisi kematian," katanya.

Tarian ini diawali tangisan dan rintihan seorang perempuan berkebaya pink. Dia berlakon seolah-olah merupakan anggota keluarga yang sedang dirundung kematian. Ucapan dan tangisannya dilakukan seperti bernyanyi di sela isak tangisnya.

Tak berapa lama, musik tradisional mulai dimainkan. Dari sudut panggung muncul dua penari dan seekor burung enggang palsu. Kedua penari memakai topeng. Pada burung enggang palsu, paruh burung enggang dan jubah putih lebar serta ekor yang terdiri dari tiga helai pita kain berwarna hitam, putih dan merah (warna yang sakral buat suku Simalungun). Mereka menari mengelilingi perempuan tersebut. Mereka melakukan gerakan-gerakan yang memancing tawa. Tarian itu berakhir ketika perempuan yang sedang dirundung kesedihan tersebut akhirnya bangun berdiri dan ikut menari bersama.

Penampilan tim kesenian itu sekitar 15 menit. Penonton mendekati panggung untuk melihat lebih dekat. Termasuk anggota tim dari peserta lomba modern dance juga ikut. Pecinta fotografi tak mau kalah. Momen langka tersebut diabadikan lewat lensa kamera mereka. Tim kesenian tersebut juga membawa alat musik asli lengkap dengan pemain musiknya. Ketika pertunjukan berakhir, tepuk tangan meriah langsung terdengar.

Penampilan Tari Huda-huda tersebut menjadi bagian dari pembukaan Festival Krakatau ke-24 tahun ini. Festival Krakatau merupakan agenda pariwisata Provinsi Lampung untuk mempromosikan potensi budaya dan pariwisata di daerah itu. (*)

Saryah M Sitopu - Saibumi,com
Read More
Rabu, 27 Agustus 2014
APBD Simalungun 2014 Defisit Rp127 Miliar

APBD Simalungun 2014 Defisit Rp127 Miliar

Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Kabupaten Simalungun tahun anggaran 2014 mengalami defisit sebesar Rp127,4 miliar lebih.

Kondisi keuangan tersebut terungkap pada rapat paripurna DPRD Simalungun terkait P-APBD 2014, dan disetujui lima fraksi menjadi Ranperda, Selasa.

Disebutkan P-APBD Kabupaten Simalungun TA 2014 yang disetujui oleh masing-masing fraksi, pendapatan semula Rp1.929.124.408.271 menjadi Rp1.801.698.988.275.

Belanja semula Rp1.895.358.728.035 berkurang Rp. 92.126.983.458,17, jumlah belanja setelah perubahan Rp 1.803.231.744.576,83 (defisit Rp. 1.532.755.579,93).

Sedangkan pembiayaan daerah pada pos penerimaan semula Rp1 miliar bertambah Rp22.479.949.515,83 jumlah penerimaan setelah perubahan Rp23.479.949.515,83.

Pada pos pengeluaran pembiayaan daerah semula Rp34.756.680.237 berkurang Rp12.818.941.301, jumlah pengeluaran pembiayaan setelah perubahan Rp21.946.738.336. Pembiayaan netto setelah perubahan Rp1.532.755.579,83.

Selain Ranperda P-APBD TA 2014, DPRD juga memberikan persetujuan terhadap enam Ranperda tentang Organisasi dan Tata Kerja Administrator Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke, Ranperda tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat KORPRI, Ranperda tentang perubahan ke empat atas Perda Nomor 17 tahun 2008 tentang organisasi dan tata kerja perangkat daerah.

Renperda tentang PDAM Tirta Lihou, Ranperda tentang Perda Nomor 3 tahun 2008 tentang penyelenggaraan administrasi Dukcapil, serta Ranperda tentang pencabutan Perda No 12 tahun 2006 tentang pengelolaan pembersihan parit jalan dan bahu jalan yang berbatasan dengan tanah milik masyarakat dan perkebunan.

Ketua DPRD Binton Tindaon mengimbau kepada jajaran eksekutif agar benar-benar memperhatikan serta menindaklanjuti hal-hal yang telah disampaikan oleh dewan, baik hasil rapat masing-masing komisi, badan anggaran, panitia khusus dan dari masing-masing fraksi.

“Kiranya Ranperda ini segera disampaikan kepada Gubernur Sumatera Utara untuk dievaluasi sehingga berbagai kegiatan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan,” ujar Binton.

Bupati yang diwakili Sekretaris Daerah Gidion Purba mengatakan masukan dan usulan Dewan akan dijadikan catatan yang berharga dalam rangka pelayanan kesejahteraan kepada masyarakat di Kabupaten Simalungun.

“Ranperda yang baru mendapat persetujuan dari dewan akan kami sampaikan kepada Gubsu untuk bahan evaluasi agar dapat ditetapkan menjadi Perda Kabupaten Simalungun,” ujar Gidion. 

antarasumut
Read More
Minggu, 24 Agustus 2014
Pemkab Simalungun Buka Pendaftaran Calon Praja IPDN 2014

Pemkab Simalungun Buka Pendaftaran Calon Praja IPDN 2014

Pemkab Simalungun mengumumkan penerimaan pendaftaran calon praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tahun 2014.

 “Waktu pendaftaran dimulai hari ini (23 Agustus) sampai 29 Agustus di Badan Kepegawaian Daerah di Pamatang Raya,” ujar Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishub Kominfo) Simalungun Mixnon Andreas Simamora, Sabtu.

Kepala Dishub Kominfo menyampaikan Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih telah mengeluarkan surat pengumuman tertanggal 22 Agustus menindaklanjuti surat Kemendagri.

Mixnon menyebutkan pendaftar harus mengikuti seleksi administrasi, dan sejumlah tes termasuk wawancara penentuan akhir (Pantukhir).

 “Setiap tahapan dalam seleksi penerimaan calon praja IPDN tahun 2014  di bawah pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” ujar Mixnon.

 Peserta yang dinyatakan lulus seleksi berhak mengikuti pendidikan IPDN dan siap ditempatkan di Kampus IPDN pusat atau Kampus IPDN Daerah, ujar Mixnon.

Untuk persyaratan Kepala Dishub Kominfo mempersilakan melihat di BKD Simalungun dan membuka website Kemendagri. ***3***

antarasumur
Read More
Jumat, 22 Agustus 2014
Simalungun Butuh 3000 Lebih Guru PNS

Simalungun Butuh 3000 Lebih Guru PNS

Berdasar analisa kebutuhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan jumlah sekolah yang ada, maka Pemerintah Kabupaten Simalungun idealnya masih membutuhkan 3000-an PNS, khusus tenaga pendidik.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Simalungun Jamesrin Saragih ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/8). Menurutnya, dalam menentukan kebutuhan pegawai, daerah memang harus mempertimbangkan beberapa aspek. Analisa kebutuhan guru tentunya berbeda dengan menganalisa kebutuhan tenaga medis atau teknik.

Secara umum kebutuhan pegawai itu tidak terlepas dari faktor budgeting (anggaran, red). “Untuk analisa kebutuhan guru secara umum dapat dihitung berdasarkan jumlah sekolah dengan jumlah tenaga pendidik,” ungkapnya.

Dengan perhitungan umum berdasarkan data dari Dinas Pendidikan maka sebenarnya Simalungun membutuhkan banyak guru PNS, dengan perhitungan jumlah SD ada 773 unit. Secara umum setiap SD akan dibutuhkan minimal 10 guru dengan rincian guru kelas 6 orang, 2 guru agama, 1 guru olahraga, 1 pegawai dan 1 kepala sekolah. Sehingga total minimal guru yang dibutuhkan sekitar 7.730 tenaga pendidik.

Jamesrin mengatakan, berbeda dengan analisa pegawai untuk SMP. Dengan jumlah 55 SMP dan perincian minimal 30 guru untuk satu sekolah, maka total kebutuhan di Simalungun berjumlah 1.650 guru. Jumlah 30 guru untuk SMP masih tergolong minimal karena setiap guru bidang studi sudah berbeda-beda dan hal ini belum lagi jika jumlah rombel (rombongan belajar, red) yang lebih banyak maka jelas 30 guru belum cukup.

Sementara SMA/SMK membutuhkan minimal 50 guru dalam satu sekolah. Dengan 24 SMA/SMK maka kebutuhannya guru mencapai 1.200 tenaga pendidik. “Dari total SD, SMP, SMA/K maka jumlah guru yang dibutuhkan itu sekitar 10.580 orang tenaga pendidik. Jumlah ini akan tersebar untuk sekolah negeri di 31 kecamatan,” jelasnya

Jika dibandingkan jumlah guru (PNS) di Simalungun saat ini dengan jumlah 8.000 tenaga pengajar, maka ada kekurangan lebih dari 2.000 tenaga pengajar. “Hal ini masih berbicara minimal karena untuk 30 guru di SMP itu hanya berlaku bagi sekolah yang baru buka. Sedangkan jika kelasnya sudah diatas 15 lokal, maka hal itu sudah tidak efektif lagi. Walaupun memang kebutuhan itu juga harus mempertimbangkan kondisi anggaran saat ini,” tambahnya.

Ditanya apakah Pemkab Simalungun memang sudah dipastikan tidak melakukan penerimaan formasi PNS untuk tahun 2014, Jamesrin mengaku belum bisa memastikannya. “Belum ada kepastian soal itu. Namun sudah diajukan formasi kebutuhan pegawai dan sebelumnya disebut kuota yang disetujui 30 orang. Kita tunggulah surat resmi dari Kemenpan RB,” tandasnya.

Terpisah, Kadis Pendidikan Simalungun Wasin Sinaga, melalui telepon selulernya, Kamis (21/8), mengatakan, secara umum Simalungun masih membutuhkan banyak kekurangan guru khususnya guru olahraga.

“Jika berdasar jumlah sekolah dengan guru, maka masih dibutuhkan ribuan guru. Hal ini bisa teratasi dengan memberdayakan tenaga honor. Guru PNS dan non PNS berjumlah 11.140 orang. Kita berharap penambahan ini dilakukan secara bertahap,” ungkapnya.

Belum lagi jika ditinjau dari aspek geografis, menurut Wasin, Simalungun sangat luas dan jumlah penduduk mencapai sekitar sejuta jiwa. “Walaupun jumlah sekolah di Siantar dan Simalungun misalnya sama, maka dengan perbedaan geografis Simalungun yang lebih luas maka kebutuhan guru juga akan berbeda.

Belum lagi jika dikaitkan dengan rencana pemekaran Simalungun Hataran, maka sudah sewajarnya pemerintah pusat memberikan peluang bagi Simalungun untuk melakukan penambahan jumlah guru,” ujarnya.

Metro Siantar
Read More
Nasib Museum Simalungun yang Menyedihkan

Nasib Museum Simalungun yang Menyedihkan

Kepala Yayasan Museum Simalungun, Jomen Purba, meratapi kondisi museum itu kini. Museum yang berisi sejarah dan budaya Simalungun itu kini sangat jarang dikunjungi.

Menurut Jomen, bangunan itu hanya sekadar pajangan di pusat Kota Siantar. Museum, lanjutnya, tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menawan.

"Udah seringnya itu kuusulkan supaya ada sedikit dana untuk membuat supaya itu jadi lebih menarik. Supaya orang mau berkunjung kemari. Ke Pemkab (Simalungun) udah, ke Pemko (Pematangsiantar) udah," ujarnya, Kamis (21/8/2014).

Setiap hari, tak selalu ada pengunjung yang mendatangi Museum Simalungun. Jika ada yang datang, palingan hanya dua sampai empat pengunjung.

"Mana ada yang datang. Tengoklah sendiri kayak hari ini. Satu pun enggak ada yang datang. Sehari belum tentu ada yang datang. Kalau ada yang datang pun paling dua, tiga, empat," kata Jomen.

Masalah sepinya Museum Simalungun telah menjadi sorotan sejak lama. Menurut Jomen, pemerintah serta masyarakat Siantar dan sekitarnya seakan tak menganggap museum itu sebagai tempat yang menarik.

"Anda saja yang lantaran bukan orang sini. Kalau orang sini udah gak ada lagi yang peduli. Sekolah-sekolah aja pun enggak ada siswanya yang kemari," tambahnya.

Museum Simalungun terletak di pusat Kota Siantar, tepatnya di Jalan Sudirman, sebelah Kantor Polres Pematangsiantar.

Setiap hari, museum buka dari pagi sampai pukul 18.00 Wib. Pengunjung yang masuk dikenakan tarif sebesar Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000-Rp 4.000 untuk anak-anak dan remaja.

"Retribusi itu paling untuk operasional ajanya. Kayak listrik, air," tandas Jomen.
kompas.com
Read More